Wakaf Modal UMKM: Janda dengan 6 Anak, Ayo Bantu Ibu Susi Pulihkan Ekonominya

Seorang janda muda dengan 6 orang anak, terlilit hutang karena suaminya yang jahat. Usaha mie ayamnya harus tutup untu membayar hutang suaminya. Kini Ibu Susi mau jualan lagi namun tak ada modal, ayo bantu denga wakaf modal untuk UMKM!

Wakaf Modal UMKM: Janda dengan 6 Anak, Ayo Bantu Ibu Susi Pulihkan Ekonominya

Target

0 0

0%
0 31 hari tersisa
Rp
Rp 50,000
Rp 100,000
Rp 250,000

Wakaf Modal UMKM: Janda dengan 6 Anak, Ayo Bantu Ibu Susi Pulihkan Ekonominya


Inilah kisah Ibu Susi, seorang janda dengan 6 orang anak yang kini tinggal di wilayah Bojong Gede, Jawa Barat. Ibu Susi merupakan seorang mualaf sejak remaja. Dulu, hidupnya terbilang cukup. Menikah dengan seorang laki-laki yang berkecukupan harta dan dikaruniai 4 orang anak. Hingga suatu hari rumah tangganya bergejolak dan ia bercerai dengan suaminya. Ditinggalkan rumah untuknya berlindung bersama anak-anaknya, hari-hari berat menjadi seorang single parent pun dimulai.

Sekitar 2 tahun lalu, orang tuanya menjodohkannya dengan seorang laki-laki yang dengan patuh ia turuti karena berharap pilihan orang tua akan membawa kebaikan bagi keluarganya. Setelah menikah lagi, mantan suaminya tak bisa merelakan hartanya digunakan untuk berumah tangga olehnya, sehingga rumah yang diberikan diambil kembali dan Ibu Susi mulai tinggal di kontrakan yang ia dapatkan dengan harga murah.

c2d82d778e22268d42ea6ac6f3841245.jpg

Menikah lagi baginya adalah awal baru, ia dan suaminya menjalankan usaha mie ayam bersama. Sang suami memiliki kemampuan untuk membuat sendiri mie ayam dan baksonya, berhubung ia memiliki alat pembuatannya sendiri. Dari suami barunya ini, ia dikaruniai 2 orang anak. Semakin lama ia mengenal suaminya, rupanya suaminya bukan pria baik-baik.

Ibu Susi akhirnya mengetahui bahwa suaminya sering bermain judi togel dan mengonsumsi obat-obat terlarang, padahal saat itu Ibu Susi sedang menjadi relawan di salah satu lembaga dakwah Islam. Ia malu dengan kondisi suaminya hingga akhirnya mengundurkan diri dari lembaga tersebut dan memilih fokus mengurus keluarganya. Hingga suatu hari, sampai hati suaminya kabur meninggalkannya yang sedang mengandung anak ke-6 dan masih menyusui anak ke-5. Sudah ditinggal pergi, ditinggal hutang pula, yang ia ketahui ketika tiba-tiba ada rentenir datang ke rumahnya untuk menagih utang-utang sang suami dari berjudi.

Selepas ditinggal kabur itulah Ibu Susi banting tulang, berusaha mati-matian menghidupi keluarga. Anak pertamanya kini berusia sekitar 20 tahun, namun tak bisa melanjutkan kuliah karena tak ada biaya dan harus membantu perekonomian keluarga. Si sulung di PHK dari pekerjaannya dan kini beberapa kali bekerja sebagai ojek online yang akunnya pun ia pinjam dari kawannya sehingga ia harus menyetorkan beberapa dari penghasilannya setiap kali ia ngojek. Anak keduanya duduk di bangku SMA, anak ketiganya duduk di bangku SMP, dan anak keempatnya masih SD. Sedangkan anak kelima dan keenamnya masih balita dan menyusui.

0561fc1c948728fb127bbf0b2da4a3b7.jpg

Sebegitu tak ada lagi pemasukan, peralatan yang biasa ia dan suaminya itu gunakan untuk berdagang mie ayam ia jualkan satu persatu. Kios yang dulu pernah mereka sewa pun sudah tak dapat ditanggungnya sehingga ia boyong gerobak mie ayam itu ke rumah. Bukan ia tak mau meneruskan usaha mie ayamnya, namun kondisi fisiknya yang saat itu hendak melahirkan tak memungkinkan untuk memproduksi dagangan seperti biasa, belum lagi saat akhirnya ia melahirkan anak keenam, ia harus menjalani operasi caesar. Selama kondisi sulit itu, Ibu Susi mengandalkan uang yang tersisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, juga dari hasil kerja anak sulungnya. Saat kondisi fisiknya mulai membaik ia mulai menjualkan lagi mie ayamnya yang ia tawarkan lewat grup-grup chat. Walau tak lagi memproduksi banyak seperti saat bersama suami, ia tetap berusaha agar setidaknya ada uang untuk makan satu hari keluarganya.

"Produksi mie ayam itu agak berat juga karena modalnya habis untuk makan anak-anak, jadi saya coba ambil tawaran jadi asisten rumah tangga waktu itu. MasyaAllah mba, dulu saya punya pembantu, sekarang saya jadi pembantu. Tapi gakpapa, selama itu halal saya kerjakan," kisahnya pada tim Global Wakaf saat datang ke rumahnya.

f5780f470c4b2e237bbbba5a1b509624.jpg

Sambil menjadi asisten rumah tangga, ia juga mencoba mencari pekerjaan lain yang lebih layak, namun semua lowongan terbentur usia karena usianya saat itu sudah hampir kepala 4. Belum lagi ia tak bisa meninggalkan anak bungsunya di rumah walau ASI sudah dititipkan pada kakak-kakaknya. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali tinggal di rumah sembari membuat pesanan mie ayam yang tak seberapa karena kondisi pandemi ini juga turut mempengaruhi pesanannya. Selama itulah ia hidup dari bantuan tetangga, teman, dan kenalannya.

"Kalau gak ada uang biasanya kami puasa mba. Tapi buka puasanya bisa jam 10 malam itupun hanya dengan teh dan gula. Sampai anak saya ini pernah tanya 'Ummi, kita kapan selesai puasanya? Kan ramadhannya sudah lewat' masyaAllah mba, ya saya gak punya apa-apa untuk dimakan," kisahnya lagi pada tim kami.

"Pernah suatu hari saya cuma punya uang 6000 saja, benar-benar itu uang terakhir. Mau dibuatkan nasi goreng pun gak ada bumbu. Saya titipkanlah ke anak saya dengan harapan dia belikan cabai atau apa. Pulang-pulang rupanya uang 6000 itu ia sedekahkan ke kotak amal di masjid. YaAllah mau marah karena uang terakhir itu tapi bagaimana kan disedekahkan sama dia," cerita Ibu Susi sambil menangis karena anak-anaknya terpaksa puasa bersebab tak ada lagi uang. Aset motor yang ia punya untuk digunakan ngojek oleh anaknya pun kini sudah dijual untuk makan sehari-hari.

b9ae36598166cd6ec471a35ea1ab45b3.jpg

Tapi Ibu Susi tak pernah patah semangat. Ia selalu percaya bahwa pertolongan Allah itu dekat. Dari kawan-kawan dan ada orang terdekatnya, sering memberikan bantuan dan memberikan pertimbangan untuk menjalankan usaha warung saja yang bisa ia lakukan dari rumah tanpa harus meninggalkan anak-anak. Namun tentu saja modalnya sangat terbatas dan tak cukup untuk membeli dan menyetok barang dagangan. Salah satu ujian aqidah juga baginya saat meminta bantuan kepada keluarga besarnya yang masih belum muslim. Ia diminta untuk kembali ke agama sebelumnya dan akan diberikan bantuan untuk sekolah anak-anaknya.

Namun Ibu Susi tak tergoda, ia memang memikirkan masa depan anak-anaknya, tetapi ia harus mempertahankan aqidahnya. Oleh karena itu ia sangat menyambut uluran tangan orang-orang yang bersedia membantunya. Kini Ibu Susi membutuhkan modal usaha untuk membuka warung, ia juga sangat senang jika bisa diberi pendampingan usaha karena ia juga mau belajar untuk terus berkembang.

Sahabat, mari bantu pulihkan ekonomi keluarga Ibu Susi dengan wakaf modal usaha untuknya, melalui laman ini sekarang juga!

Berikan wakaf terbaikmu dengan cara:

1. Klik Wakaf Sekarang
2. Masukkan nominal wakaf
3. Masukkan informasi pelengkap lalu pilih metode pembayaran seperti Transfer Bank BNI/Mandiri/BCA/BRI, Gopay atau OVO
4. Selesaikan dengan klik Wakaf Sekarang
5. Dapatkan laporan wakaf via email dan atau whatsapp yang telah dicantumkan

Jangan lupa infokan projek wakaf ini ya,
Salam hangat!


*dengan berwakaf melalui laman ini, kamu telah menyetujui syarat dan ketentuan yang berlaku 

Tidak ada hasil ditemukan